Doding ni Simalungun

Oktober 19, 2009 oleh sauhur

Ilah Bolon

ciptaan Taralamsyah

PENGOBATAN DENGAN METODE MAMOHOM

Oktober 15, 2009 oleh sauhur

Oleh: M Muhar Omtatok

mamohom

Dalam khazanah pengobatan tradisional Simalungun, ada banyak metode yang tidak menggunakan ramuan berupa jamu-jamuan, namun sangat memiliki khasiat.

Sebut saja Bohom atau Bonom.  Bohom atau Bonom adalah metode pengobatan dari luar tubuh dengan memberikan efek hangat pada tubuh, dengan membungkus sesuatu pada daun yang diletakkan pada abu panas.

Salain itu, ada pula metode Mamohom. Mamohom merupakan teknik pengobatan dengan jalan membuang darah kotor (racun yang berbahaya) dari dalam tubuh melalui permukaan kulit. Dahulu metode Mamohom di Simalungun menggunakan tanduk hewan, seperti tanduk kerbau atau kambing untuk wadah penghisapan darah kotor tersebut.

Entah sejak kapan metode Mamohom ini ada di Tanah Simalungun. Namun yang pasti Mamohom juga dikenal dibeberapa negara.   Hijamah, begitu nama yang dikenal di Arab untuk metode Mamohom ini. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan cupping, dan dalam bahasa melayu dikenal dengan istilah Bekam. Di Indonesia dikenal pula dengan istilah kop atau cantuk..

Dengan melakukan penghisapan maka terbentuklah tekanan negatif di dalam tanduk yang telah disediakan untuk penampung dan memvakumkan wilayah tubuh yang akan dikeluarkan darahnya, sehingga terjadi drainase cairan tubuh berlebih (darah kotor) dan toksin, menghilangkan perlengketan/adhesi jaringan ikat dan akan mengalirkan darah “bersih” ke permukaan kulit dan jaringan otot yang mengalami stagnasi serta merangsang sistem syaraf perifer.

Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa mamohom atau bekam bekerja dengan cara merangsang atau mengaktifkan : (1) sistem kekebalan tubuh, (2)Pengeluaran Enkefalin,(3)Pelepasan neurotransmitter, (4) Penyempitan dan pelebaran pembuluh darah serta (5) “the gates for pain” pada Sistem Syaraf Pusat (CNS) yang berfungsi mengartikan sensasi rasa nyeri.

Apabila dilakukan mamohom pada titik bekam, maka akan terjadi kerusakan mast cell dan lain-lain pada kulit, jaringan bawah kulit ( sub kutis), fascia dan ototnya. Akibat kerusakan ini akan dilepaskan beberapa mediator seperti serotonin, histamine, bradikinin, slow reacting substance (SRS), serta zat-zat lain yang belum diketahui. Zat-zat ini menyebabkan terjadinya dilatasi kapiler dan arteriol, serta flare reaction pada daerah yang dibekam. Dilatasi kapiler juga dapat terjadi di tempat yang jauh dari tempat pembekaman. Ini menyebabkan terjadinya perbaikan mikrosirkulasi pembuluh darah. Akibatnya timbul efek relaksasi (pelemasan) otot-otot yang kaku serta akibat vasodilatasi umum akan menurunkan tekanan darah secara stabil. Yang terpenting adalah dilepaskannya corticotrophin releasing factor (CRF), serta releasing factors lainnya oleh adenohipofise. CRF selanjutnya akan menyebabkan terbentuknya ACTH, corticotrophin dan corticosteroid. Corticosteroid ini mempunyai efek menyembuhkan peradangan serta menstabilkan permeabilitas sel.

Penelitian lain menunjukkan mamohom alias bekam pada titik tertentu dapat menstimulasi kuat syaraf permukaan kulit yang akan dilanjutkan pada cornu posterior medulla spinalis melalui syaraf A-delta dan C, serta traktus spinothalamicus kearah thalamus yang akan menghasilkan endorphin. Sedangkan sebagian rangsang lainnya akan diteruskan melalui serabut aferen simpatik menuju ke motor neuron dan menimbulkan reflek intubasi nyeri.

Mamohom merupakan metode pengobatan klasik yang telah digunakan dalam mengobati berbagai kelainan penyakit seperti hemophilia, hipertensi, asam urat, reumatik arthritis, sciatica, sakit punggung, migraine, vertigo, anxietas (kecemasan) serta penyakit umum lainnya baik bersifat fisik maupun mental.

Mamohom sudah lama dikenal di Simalungun. Bahkan diluar negeri, seperti kerajaan Sumeria, kemudian terus berkembang sampai Babilonia, Mesir, Saba, dan Persia. Pada zaman Rasulullah Muhammad, beliau menggunakan kaca berupa cawan atau mangkuk tinggi.

Di Simalungun serta pada zaman China kuno, mereka memakai tanduk yang sudah berlubang untuk menggantikan kaca. Ada juga yang menggunakan lintah sebagai pengganti pengisapan dengan tanduk.Kini pengobatan ini dimodifikasi dengan sempurna dan mudah pemakaiannya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dengan menggunakan suatu alat yang praktis dan efektif.

Jenis Mamohom

  • Bekam kering atau bekam angin (Hijamah Jaaffah), yaitu menghisap permukaan kulit dan memijat tempat sekitarnya tanpa mengeluarkan darah kotor. Bekam kering ini berkhasiat untuk melegakan sakit secara darurat atau digunakan untuk meringankan kenyerian urat-urat punggung karena sakit  encok, juga penyakit-penyakit penyebab kenyerian punggung. Bekam kering baik bagi orang yang tidak tahan suntikan jarum dan takut melihat darah. Kulit yang dibekam akan tampak merah kehitam-hitaman selama 3 hari.
  • Bekam basah (Hijamah Rothbah), yaitu pertama kita melakukan bekam kering, kemudian kita melukai permukaan kulit dengan jarum tajam (lancet), lalu di sekitarnya dihisap dengan alat cupping set dan hand pump untuk mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh. Lamanya setiap hisapan 3 sampai 5 menit, dan maksimal 9 menit, lalu dibuang darah kotornya. Penghisapan tidak lebih dari 7 kali hisapan. Darah kotor berupa darah merah pekat dan berbuih. Dan selama 3 jam setelah di-bekam, kulit yang lebam itu tidak boleh disiram air. Jarak waktu pengulangan bekam pada tempat yang sama adalah 3 minggu sahaja

Waktu Mamohom

Sebaiknya berbekam dilakukan pada pertengahan bulan, karena darah kotor berhimpun dan lebih terangsang (darah sedang pada puncak gejolak). Orang Simalungun melakukan Mamohom pada hari ketujuhbelas, kesembilanbelas atau keduapuluhsatu atau pada waktu-waktu yang diperlukan bagi penderita penyakit.

Ada sekitar 12 titik utama untuk mamohom. Beberapa ahli bekam juga menggunakan titik akupuntur untuk dilakukan pembekaman sedangkan yang lainnya menggunakan pendekatan anatomi organ tubuh dan patofisiologis suatu penyakit.

Penyakit apa saja yang dapat diobati dengan mamohom?

Hipertensi, hiperuricemia (Gout/Pirai), hiperkolesterolemia, stroke, parkinson, epilepsy, migrain, vertigo, gagal ginjal, varises, wasir (hemoroid), dan semua keluhan sakit (rematik, ischialgia/sciatica, nyeri pinggang bawah), penyakit darah (leukemia, thalasemia), tinnitus, asma, alergi, penyakit sistim imun (SLE, HIV), infeksi (Hepatitis, elefantiasis), Glaukoma, Insomnia, enuresis/mengompol, mania, skizofren dan trans (gangguan sihir/jin), dll. Begitu juga bekam untuk kesuburan (fertilitas) dan kecantikan (menghilangkan jerawat, komedo, vitiligo, menurunkan berat badan, dan lainnya).

Orang yang ditunda pembekamannya adalah : Wanita hamil (pada daerah perut dan punggung bawah), wanita menstruasi dan nifas, orang yang sedang mengkonsumsi obat pengencer darah, sedang cuci darah, baru melakukan donor darah, penderita dengan kondisi yang sangat lemah dan tekanan darah sangat rendah, serta orang yang sedang kelaparan/kenyang/gugup (fobia).

ALMANAK SIMALUNGUN

Oktober 15, 2009 oleh sauhur
oleh: M Muhar Omtatok

oleh: M Muhar Omtatok

Almanak merupakan suatu publikasi tahunan yang mengandung informasi tabular pada suatu atau beberapa topik yang disusun sesuai dengan kala tertentu. Data astronomi dan berbagai jenis statistik juga ditemukan pada almanak, seperti waktu terbit dan tenggelamnya matahari dan bulan, gerhana, waktu pasang tinggi, perayaan keagamaan, garis waktu, dan sebagainya. Dengan kata lain kita biasanya menyebut dengan kalender.
Pada zaman Tiongkok kuno, penerbitan susunan almanak adalah salah satu lambang kekuasaan kaisar, maka pergantian dinasti kadang-kadang juga mengganti nama tahun, mengganti almanak. Sejak dinasti Qin (221–207 SM) dan dinasti Han (206 SM–220 M), kira-kira sudah lebih dari 100 macam almanak.
Kaisar Romawi pada tahun 47 SM menetapkan kalender dengan ketentuan bahwa satu tahun berumur 365 hari dengan kelebihan 6 jam setiap tahun, setiap tahun yang keempat atau angkanya habis dibagi 4 maka umurnya menjadi 366 hari disebut tahun kabisat yaitu tahun panjang, sedangkan tahun biasa berumur 365 hari. Cara menetapkannya ialah apabila tahun tersebut habis dibagi 4 berarti tahun kabisat. Misalnya tahun 1995 : 4 = 498,7 bukan tahun kabisat sedangkan tahun 1996 : 4 = 499 adalah tahun kabisat. Perkembangan selanjutnya pada abad ke-16 terjadi pergeseran dari biasanya yaitu musim semi yang biasanya jatuh pada tanggal 21 Maret telah maju jauh, maka dilakukan suatu koreksi. Apabila sebelum perhitungan satu tahun adalah 365,25 hari maka sejak saat itu satu tahun menjadi 365,2425 hari. Itu berdasar pada perhitungan bahwa revolusi bumi bukan 365 hari lebih 6 jam tetapi tepatnya 365 hari 5 jam 56 menit atau 365 hari lebih 6 jam kurang 4 menit.
Awal tahun Masehi merujuk kepada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Isa Al-Masih karena itu kalender ini dinamakan Masihiyah atau Yesus dari Nazaret. Kebalikannya, istilah Sebelum Masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut. Kata Masehi (disingkat M) dan Sebelum Masehi (disingkat SM) biasanya merujuk kepada tarikh tahun menurut Kalender Gregorian. Kata ini berasal dari Bahasa Arab. Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun
Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat selama abad ke-8.
Meskipun tahun 1 dianggap sebagai tahun kelahiran Yesus, namun bukti-bukti historis terlalu sedikit untuk mendukung hal tersebut. Para ahli menanggali kelahiran Yesus secara bermacam-macam, dari 18 SM hingga 7 SM. Sejarawan tidak mengenal tahun 0 ─ 1 M adalah tahun pertama sistem Masehi dan tepat setahun sebelumnya adalah tahun 1 SM. Dalam perhitungan sains, khususnya dalam penanggalan tahun astronomis, hal ini menimbulkan masalah karena tahun Sebelum Masehi dihitung dengan menggunakan angka 0, maka dari itu terdapat selisih 1 tahun di antara kedua sistem.
Di Indonesia tahun Masehi digunakan secara resmi sebagai Kalender rujukan. Selain itu, masyarakat juga mengenal tahun Hijriyah/tahun Jawa dan tahun Imlek/tahun Tionghoa. Walau leluhur bangsa ini juga banyak mengenal sistem almanak sebagai kekayaan lokal yang harus dilestarikan.

Almanak Simalungun yang terbuat dari Tulang. Ada juga yang ditulis diatas kulit hewan

Almanak Simalungun yang terbuat dari Tulang. Ada juga yang ditulis diatas kulit hewan

Tabung bambu diperuntukkan ebagai Almanak Simalungun. Bagian bawah tabung ditutup. Tabung dibagi menjadi dua bagian yang sama: satu berisi almanac berbentuk kisi-kisi, dan yang satunya berisi kolom-kolom yang disusun secara vertikal berupa ‘uhir & rajah’ didistribusikan bersama tiga baris horizontal.

Tabung bambu diperuntukkan ebagai Almanak Simalungun. Bagian bawah tabung ditutup. Tabung dibagi menjadi dua bagian yang sama: satu berisi almanac berbentuk kisi-kisi, dan yang satunya berisi kolom-kolom yang disusun secara vertikal berupa ‘uhir & rajah’ didistribusikan bersama tiga baris horizontal.

Tiga tabung bambu bertuliskan Almanak (porhalaan). Tabung yang melekat pada benang dan mungkin dimaksudkan untuk digantung, menunjukkan potensi mereka berfungsi sebagai jimat rumah tangga (pagar). Ditengah tabung panjang dibagi menjadi dua panel: berisi setengah depan berbentuk kisi-kisi yang menggambarkan hari-hari dalam setahun dan bagian kedua uhir & rajah yang berisi kolom-kolom vertikal. Yang tersisa dua tabung berisi teks-teks tertulis. Tabung yang lebih pendek berisi uhir gorga yang dibatasi menjadi dua bagian oleh sebuah berkas pita bermotif S yang berkait, terdiri dari sederetan gambar 2 pola.

Tiga tabung bambu bertuliskan Almanak (porhalaan). Tabung yang melekat pada benang dan mungkin dimaksudkan untuk digantung, menunjukkan potensi mereka berfungsi sebagai jimat rumah tangga (pagar). Ditengah tabung panjang dibagi menjadi dua panel: berisi setengah depan berbentuk kisi-kisi yang menggambarkan hari-hari dalam setahun dan bagian kedua uhir & rajah yang berisi kolom-kolom vertikal. Yang tersisa dua tabung berisi teks-teks tertulis. Tabung yang lebih pendek berisi uhir gorga yang dibatasi menjadi dua bagian oleh sebuah berkas pita bermotif S yang berkait, terdiri dari sederetan gambar 2 pola.

Almanak yang berbentuk beberapa peletah yang dibuat dari bambu. Almanak ini lebih berfungi untuk ilmu astrologi, fengshui dan hongshui ala Simalungun.

Almanak yang berbentuk beberapa peletah yang dibuat dari bambu. Almanak ini lebih berfungi untuk ilmu astrologi, fengshui dan hongshui ala Simalungun.

KALENDER SIMALUNGUN

Tidak  diketahu pasti, sejak kapan Kalender Simalungun (Parhalaan) mulai dipakai. Bahkan angka tahun juga tidak tertera. Parhalaan justru lebih popular dewasa itu untuk dunia spiritual daripada penanggalan data.
Dalam Pustaha yang ditemukan di Talang Tua, yang ditulis pada tanggal Mudaha Ni Mangadop (11) bulan Sipaha Opat (4) tahun 686M (608 Saka), ditulis dalam bahasa lingua franca Sriwijaya dan Nagur, begini bunyinya:
“Syaka warsyatita 608 ding pratipada tahun saka leat 608 dina parmula syukpalaksya wulon waisyaka tatkalanya mudaha ni poltak bulan sipaha opat hatihani yang mangmang sumpah ini nipahat di welanya yang wala shariwidjaya kaliwat hatihani bola sariwidjaya leat manapik yang bhuni Jawa tidak bakti mengalah bumi Jawa naso tunduk ka Syariwidjaya hu ariwidjaya”.
Jika kita artikan dalam gaya tutur bahasa Simalungun, begini jadinya: “Sanggah bani mudaha ni Popoltak (mangadop) tahun saka 608 na salpu bulan sipaha ompat, panorang aima bulawan on iuhirhon sangat dunghonsa (dobkonsi) ialah bala ni ariwidjaya tanoh Jawa nao tunduk hu bani sariwidjaya”.
Disebutkan ‘mudaha ni Poltak Bulan Sipaha Opat’, menandakan kalau Kalender simalungun (Parhalaan) sudah dipakai dikala itu.
Mirip dengan tahun hijriyah, Almanak Simalungun (Parhalaan), penentuan dimulainya sebuah hari (Ari) pada Almanak Simalungun berbeda dengan Almanak Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Simalungun, sebuah ari dimulai ketika terbenamnya matahari.
Parhalaan Simalungun dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar, memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Parhalaan Simalungun lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.
Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Parhalaan Simalungun bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari. Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di jarak terdekat bulan dengan bumi, dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari. dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah, bisa 29 atau 30 hari, sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut.
Penentuan awal bulan  Parhalaan Simalungun ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali setelah bulan baru. Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi bulan sabit terkecil yang dapat dilihat oleh mata manusia beberapa saat setelah matahari terbenam, berada di ufuk barat. Jika hal ini tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari.
Semuanya tergantung pada penampakan bulan sabit terkecil saat matahari terbenam.
Pada bulan Pebruari 2009 lalu, menurut perhitungan saya melalui Parhalaan Simalungun, tanggal 26 Pebruari 2009 bertepatan dengan hari Dittia bulan Sipaha Sada, sebagai tahun baru Simalungun.
GORAN NI ARI

Jika dalam Kalender Masehi dan Kalender Hijriyah ditemukan sebanyak tujuh nama hari, dari minggu hingga sabtu, maka berbeda dengan Kalender Simalungun. Simalungun mengenal 30 (tiga puluh) nama hari.

Berikut ini 30 nama hari dalam sebulan menurut Parhalaan Simalungun, yaitu:

  1. Adintiya
  2. Suma
  3. Anggara
  4. Mudaha
  5. Boraspati
  6. Sihora
  7. Samisara
  8. Tuan Nayok
  9. Suma ni Siah (Suma ni Mangadop)
  10. Anggara Sampuluh
  11. Mudaha ni Mangadop (Mudaha ni Poltak)
  12. Boraspati ni Tangkop
  13. Sihora Purasa
  14. Samisara Purasa
  15. Tula
  16. Suma ni Holom
  17. Anggara ni Holom
  18. Mudaha ni Holom
  19. Boraspati ni Holom
  20. Sihora Dua Puluh
  21. Samisara Bona Turun
  22. Tuan Nangga
  23. Suma ni Matei
  24. Anggara ni Matei
  25. Mudaha ni Gok
  26. Boraspati ni Gok
  27. Sihora Duduk
  28. Samisara Marhulung (Samiara Bulan Matei)
  29. Hurung
  30. Likkar

Jika bulan menunjukkan jumlah 29 (dua puluh sembilan), maka hari Hurung tidak diikutkan, tetapi dari hari Samisara Marhulung langsung ke hari Likkar.

Ada beberapa kosakata Sansekerta yang mungkin sama atau teradaptasi dalam Goran-goran ni Ari ini. Sebutlah Adintiya, Aditya adalah kelompok Dewa matahari dalam Hinduime, putera dari Aditi dan Kashyapa. Di Jawa, hari Anggara diselarakan dengan hari selasa yang juga merupakan hari ketiga.

GORAN NI BULAN PARHALAAN

Terdapat 12 (dua belas) bulan dalam Kalender Simalungun, yaitu:
1.       Sipaha Sada
2.       Sipaha Dua
3.       Sipaha Tolu
4.       Sipaha Opat
5.       Sipaha Lima
6.       Sipaha Onom
7.       Sipaha Tolu
8.       Sipaha Ualuh
9.       Sipaha Siah
10.   Sipaha Sampuluh
11.   Luyu
12.   Luyu Tangtang

Partuturan Ni Halak Simalungun

Juli 23, 2009 oleh sauhur

M MUHAR OMTATOKoleh : M Muhar Omtatok

Banyak ragam Partuturan ni Halak Simalungun. Dari berbagai ragam partuturan yang jamak adanya, pengaruh etnis lain yang letaknya berbatasan dengan wilayah Simalungun, terasa sulit dielakkan.

Setuju ataupun tidak, nyatanya Batak Toba cukup berhasil mewarnai pemakaian kosa kata di Sumatera Utara. Entah karena kemampuan adaptasi masyarakat Simalungun, mungkin karena malu, ketidak tahuan, atau malah tidak mau tahu, banyak masyarakat Simalungun lebih familiar menggunakan kosa kata Batak Toba ketimbang menggunakan kosa kata Simalungun yang lebih santun.

Kata Hiou untuk menyebut kain adat Simalungun, nyatanya lebih sering digunakan kata Ulos. Bahkan tidak sedikit partuturan Batak Toba dipergunakan dikalangan Halak Simalungun. Anehnya, Kaum tualah yang mengajarkan perusakkan ini kepada generasi muda Simalungun. Jika tidak segera disikapi, saya berkeyakinan, tutur kekerabatan Simalungun akan tinggal dalam tulisan-tulisan saja.

Beragam Tutur Kekerabatan

Masyarakat Simalungun dibeberapa tempat di kecamatan Sipispis Kabupatn Serdang Bedagai, misalnya, mengenal beberapa ragam partuturan tersendiri. Tutur “Uppun”dipergunakan setara dengan tutur “Tulang”, “Ambei” sebagai pengganti tutur “Anturang”. Bahkan ada beberapa tutur lain yang mungkin saja dipengaruhi oleh resam Melayu, seperti “Atoq” (Ompung), “Ussu/Pakcik” (Bapa Anggi), “Ocik” (Inang Anggi) atau “Bundei” (Ambou).

Di wilayah bekas kerajaan Padang di Tebingtinggi. Turunan Raja Padang yang bermarga Saragih Dasalah serta turunan Datuk Bandar Kajum yang bermarga Damanik, sama sekali memakai tutur kekerabatan berdasarkan puak Melayu. Tutur Atok, Nenek atau Andong, Ayah, Abah, Akak, Ulong, Angah, Uncu, Pakcik, Makcik, Uwak dan sebagainya.

Jika Puak Melayu, misalnya, tutur Tengku Ayah untuk kalangan bangsawan, acapkali diucapkan dengan kata “Entu” (Ayahanda), sebutan Ibunda/Bunda/Bunde menjadi “Ende”, Emak Kecik menjadi “Makcik/Ocik”, Bapak Kecik menjadi “Pakcik”; diSimalungun bentuk ini juga ada.

Orang Simalungun juga biasa mengucapkan untuk tutur Mangkela menjadi “Kela”, Anturang menjadi “Turang”, Bapa Gian menjadi “Pagian/Kian” dan lain sebagainya. Dikalangan Bangsawan Sidamanik, merasa lebih akrab jika mengucapkan tutur Bapa menjadi “Apa” saja.

Tabik

Partuturan Ni Halak Simalungun

Partuturan dalam suku Simalungun di bagi ke dalam 3 kategori menurut kedekatan hubungan seseorang, yaitu

keluarga langsung

Tutur manorus (langsung)

Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.

  • Ompung (baca Oppung): orangtua ayah atau ibu, saudara (kakak/adik) dari orangtua ayah atau ibu
  • Bapa: ayah, dibeberapa wilayah yang berbatasan dengan kultur Toba ada yang menyebut Amang, yang berkolaborasi dengan resam Melayu ada yang menyebut Ayah
  • Inang: ibu
  • Abang: saudara lelaki yang lahir lebih dulu dari kita.
  • Anggi: adik lelaki; saudara lelaki yang lahir setelah kita.
  • Botou: saudara perempuan (baik lebih tua atau lebih muda).
  • Ambou/Amboru: saudara perempuan ayah; saudara perempuan pariban ayah; saudara perempuan mangkela. Bagi wanita: orangtua dari suami kita; ambou dari suami kita; atau mertua dari saudara ipar perempuan kita.
  • Mangkela (baca: Makkela): suami dari saudara perempuan dari ayah
  • Tulang: saudara lelaki ibu; saudara lelaki pariban ibu; ayah dari besan
  • Anturang: istri dari tulang; ibu dari besan
  • Parumaen: istri dari anak; istri dari keponakan; anak perempuan dari saudara perempuan istri; amboru dan mangkela kita memanggil istri kita parmaen
  • Nasibesan: istri dari saudara (Ipar) lelaki dari istri kita atau saudara istri kita
  • Hela: suami dari puteri kita; suami dari puteri dari kakak/adik kita
  • Gawei: hubungan wanita dengan istri saudara lelakinya
  • Lawei: hubungan laki-laki dengan suami dari saudara perempuannya; panggilan laki-laki terhadap putera ambou; hubungan laki-laki dengan suami dari puteri ambou (botoubanua).
  • Botoubanua: puteri ambou; bagi wanita: putera tulang
  • Pahompu(baca:Pahoppu): cucu; anak dari botoubanua; anak pariban
  • Nono: pahompu dari anak (lelaki)
  • Nini: cucu dari boru
  • Sima-sima: anak dari Nono/Nini
  • Siminik: cucu dari Nono/Nini

kelompok

Tutur holmouan (kelompok)

Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun

  • Ompung Nini: ayah dari ompung
  • Ompung Martinodohon: saudara (kakak/adik) dengan ompung
  • Ompung : ayah kandung dari ayah, kalau nenek perempuan disebut inang tutua
  • Bapa Tua: saudara lelaki paling tua dari ayah
  • Bapa Godang: saudara lelaki yang lebih tua dari ayah, di beberapa tempat biasa juga disebut bapa tua
  • Inang Godang: istri dari bapa godang
  • Bapa Tongah: saudara lelaki ayah yang lahir dipertengahan (bukan paling tua, bukan paling muda)
  • Inang Tongah: istri dari bapa tongah
  • Bapa Gian / Bapa Anggi: saudara lelaki ayah yang lahir paling belakang
  • Inang Gian / Inang Anggi: istri dari bapa gian/Anggi
  • Sanina / Sapanganonkon: saudara satu ayah/ibu
  • Pariban: sebutan bagi orang yang dapat kita jadikan pasangan (suami atau istri) atau adik/kakaknya
  • Tondong Bolon: pambuatan (orang tua atau saudara laki dari istri/suami) kita
  • Tondong Pamupus: pambuatan ayah kandung kita
  • Tondong Mata ni Ari: pambuatan ompung kita
  • Tondong Mangihut
  • Anakborujabu: sebagai pimpinan dari semua boru, anakborujabu dituakan karena bertanggung jawab pada tiap acara suka/duka Cita.
  • Panogolan: kemenakan; anak laki/perempuan dari saudara perempuan
  • Boru Ampuan: hela kandung yang menikahi anak perempuan kandung kita
  • Anakborumintori: istri/suami dari panogolan
  • Anakborumangihut: lawei dari botou
  • Anakborusanina

hormati

Tutur natipak (kehormatan)

Tutur natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.

  • Kaha: digunakan pada istri dari saudara laki-laki yang lebih tua. Bagi wanita, kaha digunakan untuk memanggil suami boru dari kakak ibu.
  • Nasikaha: digunakan istri kita untuk memanggil saudara laki kita yang lebih tua
  • Nasianggiku: untuk memanggil istri dari adik
  • Anggi : adik
  • Ham: digunakan pada orang yang membesarkan/memelihara kita (orang tua) atau pada orang yang seumur yang belum diketahui hubungannya dengan kita
  • Handian: serupa penggunaannya dengan ham, tapi memiliki arti yang lebih luas.
  • Dosan: digunakan tetua terhadap sesama tetua
  • Anaha: digunakan tetua terhadap anak muda laki
  • Kakak: digunakan anak perempuan kepada saudara lakinya yang lebih tua
  • Ambia: Panggilan seorang laki terhadap laki lain yang seumuran atau bawahan.
  • Ho: untuk orang yang derajadnya rendah. Atau panggilan bergurau bagi orang yang sudah akrab (sakkan).
  • Hanima: sebutan untuk istri (kasar) atau pada orang yang berderajad lebih rendah dari kita (jamak, lebih dari seorang)
  • Nasiam: sebutan untuk yang secara kekerabatan berderajad di atas (jamak, lebih dari seorang)
  • Akkora: sebutan orang tua bagi anak perempuan yang dekat hubungan kekerabatannya
  • Abang: panggilan pada saudara laki yang lebih tua atau yang berderajad lebih dari kita
  • Tuan: dulu digunakan untuk keturunan Raja atau bangsawan
  • Sibursog: sebutan bagi anak laki yang baru lahir
  • Sitatap: sebutan bagi anak perempuan yang baru lahir
  • Awalan Pan/Pang: sebutan bagi seorang Laki yang sudah memiliki Anak, misal anaknya Doni, maka Ayahnya disebut pan-Doni/pang-Doni.
  • Awalan Nang/Nan: sebutan bagi seorang perempuan yang sudah memiliki anak, misal anaknya Doni, maka ibunya disebut nan-Doni/nang-Doni.

BungaRaya

Juli 20, 2009 oleh sauhur
Dra Hajjah Rebecca Girsang & Haji Mudimin Saragih manortor (photo: M Muhar Omtastok)

Dra Hajjah Rebecca Girsang & Haji Mudimin Saragih manortor (photo: M Muhar Omtastok)

Bambang Kun Iswaro, banyak membantu kelancaran Administrasi Yayasan Simalungun danDistribusi  Majalah Sauhur, padahal ia bersuku Jawa, namun berbuat untuk Simalungun

Bambang Kun Iswaro, banyak membantu kelancaran Administrasi Yayasan Simalungun danDistribusi Majalah Sauhur, padahal ia bersuku Jawa, namun berbuat untuk Simalungun
Fauzi - Pemusik Sauhur

Fauzi - Pemusik Sauhur

Ketua Umum YSS - HM Aman Damanik & Ketua Ikatan Persaudaraan Muslim Sipispis (IPMS) sedang mencicipi Dayok Naiholati sambil mendengarkan doding Simalungun dari Sanggar SAUHUR, saat HUT IPMS ke IX, 20/7/2009

Ketua Umum Yayasan Simalungun Sauhur (YSS) - HM Aman Damanik & Ketua Ikatan Persaudaraan Muslim Sipispis (IPMS) - Drs H Syahdan Saragih sedang mencicipi Dayok Naiholati sambil mendengarkan doding Simalungun dari Sanggar SAUHUR, saat HUT IPMS ke IX, 20/7/2009. Acara ini sarat seni budaya Simalungun. (photo: M Muhar Omtatok)

Maranggir i Nagori Bandar (Hendra Gmkhd Damanik)

Maranggir i Nagori Bandar (Hendra Gmkhd Damanik)

Manortour SimBandar (Hendra GMKHD Damanik)

Manortour SimBandar (Hendra GMKHD Damanik)

Manortour SimBandar (Hendra GMKHD Damanik)

Manortour SimBandar (Hendra GMKHD Damanik)

Jerat Partongah Siantar

Makioui (Gusti MKH Damanik)

Manhioui (Gusti MKH Damanik)

Gabriel Stevent Damanik, Penyanyi cilik. Putra dari John Leo Damanik & Nita Silalahi. Lahir di Batam 24 Januari 1998

Gabriel Stevent Damanik, Penyanyi cilik. Putra dari John Leo Damanik & Nita Silalahi. Lahir di Batam 24 Januari 1998

TARALAMSYAH SARAGIH

Juli 16, 2009 oleh sauhur
Photo Kenangan Tuan Taralamsyah Saragih Garingging & Istri Siti Mayun Br Regar-1975

Photo Kenangan Tuan Taralamsyah Saragih Garingging & Istri Siti Mayun Br Regar-1975

Tuan Taralamsyah Saragih

Tuan Taralamsyah Saragih

TARALAMSYAH SARAGIH SANG MAESTRO ITU

Juli 16, 2009 oleh sauhur

oleh: M Muhar Omtatok

Tuan Taralamsyah Saragih Garingging adalah salah seorang bangsawan Simalungun yang memiliki kepedulian terhadap seni, budaya dan sejarah Simalungun. Penguasaannya terhadap Sejarah, Seni dan Kebudayaan Simalungun khususnya, perlu dihargai dan dikenang meskipun beliau telah lama berpulang.

Tuan Taralamsyah Saragih

Arlin Dietrich Jansen saat menyusun Thesis Doctor of Philosophy (Ph.D), dengan judul Gonrang Music  : Its structure and functions in Simalungun Batak Society in Sumatra / University of Washington, 1980, mengakui meskipun ia belum bertemu sua dengan Taralamsyah Saragih, namun koresponden yang ia lakukan dengan Taralamsyah Saragih, sangat banyak menjadi rujukan dalam thesis yang sudah menjadi buku ini.

Banyak penulis buku mengenai Simalungun mengutip pendapat Taralamsyah Saragih. Ia dengan tegas menyebutkan Rumah Bolon Nagur berada di Nagurusang (kini masuk Kab. Serdang Bedagai). Pendapat ini secara lugas dikutip Sejarahwan Dada Mauraxa, misalnya.

Taralamsyah Saragih yang menyelesaikan pendidikan formal di Holandse Inlandse School (HIS) Simalungun ini, misalnya dalam surat pribadi,1963, menjelaskan jika orang Simalungun asli itu merupakan keturunan dari empat raja-raja besar yang berasal dari Siam dan India dengan rakyatnya masuk ke Sumatera Timur terus ke Aceh, Langkat dan daerah Bangun Purba dan Bandar Kalifah sampai Batubara. Akibat desakan orang “Djau”, berangsur-angsur mereka mencapai pinggiran Danau Toba sampai ke Samosir. Adapun keempat marga-marga Simalungun yang populer Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba berasal dari “harungguan bolon” (permusyawaratan besar) raja-raja yang empat itu agar jangan saling menyerang, bermusuhan dan “marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munsuh”.

Mengenai Keturunannya morga Sinaga Dadihoyong di Kerajaan Tanoh Jawa, Batangiou di Asahan. Taralamsyah Saragih menjelaskan, “Saat kerajaan Majapahit melakukan ekspansi di Sumatera pada abad ke 14 , pasukan dari Jambi yang dipimpin Panglima Bungkuk melarikan diri ke kerajaan Batangiou dan mengaku bahwa dirinya adalah Sinaga. Nenek moyang mereka ini kemudian menjadi raja Tanoh Jawa dengan morga Sinaga Dadihoyong setelah ia mengalahkan Tuan Raya Si Tonggang morga Sinaga dari kerajaan Batangiou dalam suatu ritual adu sumpah (Sibijaon)”.

Sosok multi talenta yang mampu bermain berbagai alat musik, mencipta lagu, menari dan mengkoreografi tari serta kepeduliannya terhadap Simalungun, sudah jarang kita temukan saat ini dikalangan masyarakat Simalungun. namun Tuan Taralamsyah Saragih Garingging memiliki semua itu.

Terlahir di lingkungan Rumah bolon (Istana) di Pamatang Raya – Simalungun, Ahad 18 Agustus 1918.  Menikah saat berusia 26 tahun dengan Siti Mayun br Regar pada Sabtu 25 November 1944, dan dianugrahi 3 orang putra dan 9 putri.

Mansen Purba, SH (Alm) saat menjadi Sekretaris Rektor Universitas Simalungun (USI), 1967, pernah berkreasi bersama dengan Taralamsyah Saragih. Dalam catatan Mansen Purba menulis, “Aku juga mengusahakan agar USI berperan sebagai pusat kegiatan kebudayaan. Salah satunya adalah di kala kuprakarsai pagelaran Semalam di Simalungun, karya Taralamsyah Saragih, dengan penari utama Nangkir Saragih, dari Medan. Setelah latihan di Medan, rombongan penari menginap di USI, sebelum pertunjukan digelar di Aula Nommensen. Sekaligus aku berharap pagelaran tersebut dapat menjadi sumber penghasilan bagi seniman sekaliber Taralamsyah Saragih yang waktu itu kurang mendapat perhatian”.

“Berkat dukungan moril dari Komandan Korem Laiku Silangit (Tarigan/Purba Silangit asal Gunung Mariah), pagelaran tersebut sukses, baik dari segi pagelaran keseniannya maupun dari segi finansial. Sayangnya, Nangkir Saragih sebagai penari utama ‘menodong’ Taralamsyah sesaat sebelum pertunjukan. Ia minta bayaran yang sangat besar, jika tidak dipenuhi, akan mengundurkan diri. Taralamsyah terpaksa mengabulkannya, dan karena itu yang tersisa untuk Taralamsyah hampir tidak ada”, tambah Mansen Purba.

“Sejak itu Tulang Taralamsyah sempat tinggal bersama kami di USI, menempati salah satu kamar di Lantai-2. Disela-sela kegiatannya menulis, pada malam hari beliau berdendang dengan clarinetnya. Masa itulah Tulang Taralamsyah merampungkan bukunya berisi sejarah Kerajaan Raya dan silsilah Raja Raya serta penyebaran keturunan Raja Raya. Nama Taralamsyah Saragih dan nama Inangku tercantum sebagai generasi ke-15, yang berarti aku generasi ke-16. Naskahnya diserahkan kepadaku agar kuterbitkan. Saat aku sudah pindah ke Medan, naskahnya kuketik ulang, kemudian difotocopy diperkecil 50%, dan akhirnya kuterbitkan setelah ku-offset di Percetakan Tapian Raya, dengan biaya sendiri. Judulnya “Saragih Garingging”. Tulang Taralamsyah sangat berharap mendapat honor dari penerbitan tersebut, tetapi hanya sedikit yang sempat kukirimkan, karena penjualan buku tersebut tersendat”.

"Sang Maestro yang tak dikenang" oleh Muhar Omtatok

Website Taman Budaya Jambi menuliskan tentang Tuan Taralamsyah Saragih, “Kehadirannya di Jambi sejak pertengahan tahun 1971 atas permintaan Gubernur R.M. Noer Atmadibrata pada waktu itu, telah menambah khasanah bagi perkembangan dunia kesenian Jambi. Menurut H. Tamjid Widjaya, salah seorang sahabat dan murid terdekatnya mengatakan bahwa beliau umpama besi berani, mengumpulkan dan menyatukan serbuk-serbuk besi yang berserakan di sekitarnya. Beliau juga merupakan figure seorang guru dan sekaligus bapak yang mampu meletakkan porsinya dalam mendidik murid-muridnya, mereka semua dianggap seperti anak sendiri. Jadi tidak hanya mengajarkan ilmu keseniannya tapi juga memberikan bekal hidup bagi diri saya secara pribadi, kenang H. Tamjid Widjaya yang musisi dan pencipta lagu-lagu Jambi ini.

Pada tahun 1978, Gubernur Jambi Jamaluddin Tambunan, pernah menginstruksikan untuk melaksanakan penelitian dan pencatatan seni musik dan tari daerah Jambi, yang langsung dipercayakan kepada Taralamsyah Saragih sebagai ketua teamnya, dengan anggota Surya Dharma, Tamjid Widjaya, OK. Hundrick, Marzuki Llazim dan M. Syafei Ade, yang kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku yang masih berupa manuskrip dengan judul Ensiklopesi Musik dan Tari Daerah Jambi”.

Semasa hidupnya banyak pekerjaan dan kegiatan yang mengarah pada seni dan budaya ia lakoni. Sebut saja sebagai Pembina serta piñata tari dan musik yang bertolak dari tradisi Simalungun dan melayu, Pimpinan Orkes Keroncong Pematang Siantar (1936-1941), Perkumpulan musik Siantar Beki Dan (1942-1946), Badan Kesenian Simalungun di Medan (1952-1953), Dosen sejarah di Universitas Sumatera Utara (1968-1970), mengelola kesenian di Jambi sejak 1971 serta serentetan kreatifitas yang perlu diperhitungkan.

Penguasaan beliau terhadap seni musik, khususnya gual Simalungun, sulit kita temukan tandingnya pada saat ini. Saat sebelum Revolusi Sosial 1946, Taralamsyah Saragih pernah menjelaskan bahwa sangat banyak jenis musik khas Simalungun yang dahulu mereka pelajari, namun saat Revolusi Sosial tersebut, sekian banyak peralatan musik Simalungun yang kini tidak kita temukan lagi, turut terbakar di dalam istana kerajaan Raya.

Dalam ranah tari Simalungun, banyak jenis tari lahir dari koreografinya. Sebut saja tari Sitalasari (1946), Pamuhun, Simodak odak, Haro-haro (1952), Sombah ( merupakan penyelarasan tortour Sombah yang telah lahir dari akar leluhur, 1953), Runten Tolo (1954), Nasiaran (1955), Makail, Manduda (1957), Haroan Bolon (1959), Uou (1960), Tembakan (1964), Panak Boru Napitu (1966), Erpangir (1968) serta banyak lagi tari dan sendratari yang ia ciptakan dari tangan dinginnya.

Dalam ranah seni suara Simalungun, Taralamsyah Saragih telah banyak menciptakan lagu Simalungun, sebut saja: Lagu Eta Mangalop Boru, Parmaluan, Hiranan, Inggou Parlajang, Tarluda, Parsonduk Dua, Padan Na So Suhun, Tading Maetek, Pamuhunan, Paima Na So Saud, Sihala Sitaromtom, Sanggulung Balunbalun, Ririd Panonggor, Marsalop Ari, Mungutni Namatua, Pindah-Pindah, Inggou Mariah, Uhur Marsirahutan, Poldung Sirotap Padan, Bujur Jehan, Simodak Odak (ciptaan bersama dengan Tuan Jan Kaduk Saragih), serta yang lainnya.

Ada pula beberapa lagu tradisi Simalungun yang ia gubah kembali, seperti Parsirangan , Doding Manduda (ilah tradisi dari Ilah I Losung), Ilah Nasiholan, Marsigumbangi dan Na Majetter (ilah tradisi dari Ilah Bolon).

Terus menghidupkan kesenian dan berkarya, begitu mungkin yang ditekadkan Taralamsyah Saragih dalam mengisi kehidupan. Walaupun hujan duit belum dan tak akan pernah ia rasakan, tapi Sang Bangsawan ini telah melahirkan banyak karya yang belum pernah dimasukkan dalam Hak Kekayaan Intelektual itu.

Tepat pada hari Senin tanggal 1 Maret 1993 di Jambi, Tuan Taralamsyah Saragih Garingging menghembuskan nafas terakhir, disaat sedang menyusun dan  ingin merampungkan Kamus Simalungun yang ia susun dari tahun 1960-an dan hingga kini belum diterbitkan.

G O R I

Juli 13, 2009 oleh sauhur
Aturni Gori sipanganon siopat nahei (Batur Manggoluh)

Aturni Gori sipanganon siopat nahei (Batur Manggoluh)

Nama-Nama dari Gori:

Nama-Nama dari Gori:

  1. Ulu untuk Tondong Jabu / Tondong Pamupus
  2. Hole-Hole / Sasap untuk Anak Boru Mintori
  3. Ihur / Huang-Huang
  4. Pusu-Pusu
  5. Ate-Ate
  6. Tumpak
  7. Tulan Bolon
  8. Borgod
  9. Tulan tangan
  10. Bituha

Juni 11, 2009 oleh sauhur

PAMUNGKAH

Maronding ahu humbani parlajouan ni jolma i nagori toruh na tarpapa in

Marhitei manobut goran ni Naibata Siparholong atei ampa Siparidop ni uhur

Haganup puji hubani Ompung Naibata ni portibi ampa haganup na taridah pakon na so taridah

Siparholong atei ampa Siparunjah maruhur

Parsimada ari simagira

Pitah huba-Mu do hansa hanami manombah anjaha mamuhun pangurupion

Patuduh Ham ma bannami dalan na pintor

Ai ma dalan ni halak-halak na hubani sidea dobma binerei-Mu nikmat, sedo dalan ni halak-halak na igilai-Mu anjanah sedo homa dalan ni halak-halak na kahou

email: majalah_sauhur@yahoo.com

email: majalah_sauhur@yahoo.com

P U P U S

Mei 27, 2009 oleh sauhur

M Muhar Omtatok

Tradisi Kuno Perawatan Bayi di Simalungun

oleh: M. Muhar Omtatok

Saat membaca sebuah referensi Ayurveda India Kuno, saya menemukan sebuah konsep pemijatan pada bayi dengan ramuan tertentu. Sejenak saya terkesima, bukankah metode ini juga ada di dalam khazanah Partambaran Simalungun!

Pupus, ya mamupus bayi yaitu memberi lulur sembari melakukan pemijatan ringan pada bayi. Tradisi keluarga raja-raja di Simalungun ini sudah merupakan tradisi turun temurun. Entah sejak kapan dimulai. Jika dilihat dari referensi Ayurveda India Kuno, mungkin saja tradisi Pupus ini merupakan warisan tradisi India kuno. Namun bisa saja merupakan tradisi kecerdasan lokal Suku Simalungun. Atau inilah salah satu warisan leluhur Simalungun yang berhulu dari India.

Sebelum menulis artikel ini, saya berkempatan menghubungi beberapa narasumber dari berbagai tempat wilayah penyebaran etnis Simalungun, baik yang ada di Kabupaten Serdang bedagai maupun yang ada di Kabupaten Simalungun. Ada beberapa ragam perbedaan dalam ramuan pupus, waktu pemberian pupus dan metodelogi pemijatan. Hal ini logis saja terjadi, karena letak tempat, pola tradisi dan adaptasi yang beragam pula.

Dari berbagai ragam yang ada, kali ini saya menguraikan serba sedikit bahan dan tata cara pupus sebagai tradisi kuno perawatan bayi di simalungun yang hingga kini masih ada yang melaksanakannya.

Ada beberapa bahan yang biasa disediakan untuk melulur (mamupus) bayi, yaitu Demban (Daun sirih, yang temu urat), Lada Itam (Merica Hitam), Bawang, Jarangou Bungle (Jerangau – Acorus calamus L, Bengle – Zingiber purpureum Roxb atau Zingibercassumunar Roxb).

Daun Sirih memiliki khasiat serba guna. Sirih yang nama latinnya Piper betle L mempunya kandungan kimia minyak atsiri (kadinen, kavikol, sineol, eugenol, karvakol), zat samak. Setidaknya, daun sirih bermanfaat untuk menghilangkan bau badan, bronchitis dan Alergi.

Kandungan kimia dalam lada hitam adalah saponin, flavonoida, minyak atsiri, kavisin, resin, zat putih telur, amilum, piperine, piperiline, piperoleine, poperanine, piperonal, dihdrokarveol, kanyo-fillene oksida, kariptone, tran piocarrol, dan minyak lada. Sifat kimiawi lada adalah pedas dan beraroma sangat khas. Lada hitam memiliki banyak khasiat. Di antaranya adalah untuk melancarkan sirkulasi darah, meredakan serangan asma, mengatasi perut kembung, serta menyembuhkan rasa sakit kepala.

Bawang berkhasiat menghambat kemerosotan otak dan sistem kekebalan, mencegah penggumpalan darah, melumpuhkan radikal bebas yang mengganggu sistem kekebalan tubuh, bermanfaat sebagai penawar racun (detoxifier) yang melindungi tubuh dari berbagai macam penyakit, menjaga stamina tubuh serta mengandung khasiat antimikroba, antitrombotik, hipolipidemik, antiarthritis, hipoglikemik, dan juga memiliki antivitas sebagai antitumor.
Rimpang dan daun Jerangou mengandung saponin dan flavonoida, di samping rimpangnya mengandung minyak atsiri. Rimpang Jerangou berkhasiat sebagai obat penenang, obat lambung dan obat limpa. Kandungan Bungle adalah Asam organik; Mineral; Lemak; Gom albuminoit; Gula; Damar (pahit); Minyak atsiri (Sineol, pinen, sesquiterpen). Bungle berkhasiat sebagai Karminatif; Anti inflamasi; Analgesik; Antipiretik.
P U P U S, Tradisi Kuno Perawatan Bayi di Simalungun.

Setelah Bayi ditelatkan pada pangkuan Ibu, Bapak atau pada pangkuan Tulang-nya, si Ibu mengunyah seluruh bahan hingga halus dan bercampur dengan air liur. Setelah itu, seluruh bahan yang sudah halus dan bercampur dengan air liur tadi, dilulurkan ke tubuh bayi sembari melakukan pemijatan secara lembut namun konstan dan pasti.
Terkesan kotor metode ini karena menggunakan air liur untuk proses pupus ini. Padahal air yang berasal dari dalam mulut dan bukan ludah itu mempunyai peran penting. Sejak zaman dahalu, secara naluri ketika ada jari-jari kita yang terluka akibat tergores pisau, kita akan mengisap luka tersebut dengan mulut. Hewan pun demikian. Misalnya kucing, monyet, dan anjing, biasa membasuh tubuh dengan air liurnya ketika luka. Air liur itu sendiri membantu membuang bakteri atau kuman patogen juga pertikel makanan yang memberi dukungan nutrisi metabolik bagi bakteri itu sendiri.
Kembali pada tradisi Pupus, dari berbagai sumber, ada yang mengatakan sebaiknya dilaksanakan pagi hari ada pula yang mengatakan dilaksanakan pada sore hari dan di pantangan pada saat matahari tinggi yaitu tengah hari atau saat matahari tergelincir.

Saya juga menemukan beragam tempat untuk melakuan tradisi mupus ini, ada yang mengatakan dilaksanakan di halaman rumah hingga terkena sinar mata hari pagi. Yang memberi info demikian, menambahkan bahan dengan menggunakan kemiri. Metode ini sangat mirip dengan proses meminyaki bayi di India. Ada juga yang mengatakan dilaksanakan di lopou (teras) rumah.