




oleh: M Muhar Omtatok

Almanak Simalungun yang terbuat dari Tulang. Ada juga yang ditulis diatas kulit hewan

Tabung bambu diperuntukkan ebagai Almanak Simalungun. Bagian bawah tabung ditutup. Tabung dibagi menjadi dua bagian yang sama: satu berisi almanac berbentuk kisi-kisi, dan yang satunya berisi kolom-kolom yang disusun secara vertikal berupa ‘uhir & rajah’ didistribusikan bersama tiga baris horizontal.

Tiga tabung bambu bertuliskan Almanak (porhalaan). Tabung yang melekat pada benang dan mungkin dimaksudkan untuk digantung, menunjukkan potensi mereka berfungsi sebagai jimat rumah tangga (pagar). Ditengah tabung panjang dibagi menjadi dua panel: berisi setengah depan berbentuk kisi-kisi yang menggambarkan hari-hari dalam setahun dan bagian kedua uhir & rajah yang berisi kolom-kolom vertikal. Yang tersisa dua tabung berisi teks-teks tertulis. Tabung yang lebih pendek berisi uhir gorga yang dibatasi menjadi dua bagian oleh sebuah berkas pita bermotif S yang berkait, terdiri dari sederetan gambar 2 pola.

Almanak yang berbentuk beberapa peletah yang dibuat dari bambu. Almanak ini lebih berfungi untuk ilmu astrologi, fengshui dan hongshui ala Simalungun.
Jika dalam Kalender Masehi dan Kalender Hijriyah ditemukan sebanyak tujuh nama hari, dari minggu hingga sabtu, maka berbeda dengan Kalender Simalungun. Simalungun mengenal 30 (tiga puluh) nama hari.
Berikut ini 30 nama hari dalam sebulan menurut Parhalaan Simalungun, yaitu:
Jika bulan menunjukkan jumlah 29 (dua puluh sembilan), maka hari Hurung tidak diikutkan, tetapi dari hari Samisara Marhulung langsung ke hari Likkar.
Ada beberapa kosakata Sansekerta yang mungkin sama atau teradaptasi dalam Goran-goran ni Ari ini. Sebutlah Adintiya, Aditya adalah kelompok Dewa matahari dalam Hinduime, putera dari Aditi dan Kashyapa. Di Jawa, hari Anggara diselarakan dengan hari selasa yang juga merupakan hari ketiga.
GORAN NI BULAN PARHALAAN
oleh : M Muhar Omtatok
Banyak ragam Partuturan ni Halak Simalungun. Dari berbagai ragam partuturan yang jamak adanya, pengaruh etnis lain yang letaknya berbatasan dengan wilayah Simalungun, terasa sulit dielakkan.
Setuju ataupun tidak, nyatanya Batak Toba cukup berhasil mewarnai pemakaian kosa kata di Sumatera Utara. Entah karena kemampuan adaptasi masyarakat Simalungun, mungkin karena malu, ketidak tahuan, atau malah tidak mau tahu, banyak masyarakat Simalungun lebih familiar menggunakan kosa kata Batak Toba ketimbang menggunakan kosa kata Simalungun yang lebih santun.
Kata Hiou untuk menyebut kain adat Simalungun, nyatanya lebih sering digunakan kata Ulos. Bahkan tidak sedikit partuturan Batak Toba dipergunakan dikalangan Halak Simalungun. Anehnya, Kaum tualah yang mengajarkan perusakkan ini kepada generasi muda Simalungun. Jika tidak segera disikapi, saya berkeyakinan, tutur kekerabatan Simalungun akan tinggal dalam tulisan-tulisan saja.
Beragam Tutur Kekerabatan
Masyarakat Simalungun dibeberapa tempat di kecamatan Sipispis Kabupatn Serdang Bedagai, misalnya, mengenal beberapa ragam partuturan tersendiri. Tutur “Uppun”dipergunakan setara dengan tutur “Tulang”, “Ambei” sebagai pengganti tutur “Anturang”. Bahkan ada beberapa tutur lain yang mungkin saja dipengaruhi oleh resam Melayu, seperti “Atoq” (Ompung), “Ussu/Pakcik” (Bapa Anggi), “Ocik” (Inang Anggi) atau “Bundei” (Ambou).
Di wilayah bekas kerajaan Padang di Tebingtinggi. Turunan Raja Padang yang bermarga Saragih Dasalah serta turunan Datuk Bandar Kajum yang bermarga Damanik, sama sekali memakai tutur kekerabatan berdasarkan puak Melayu. Tutur Atok, Nenek atau Andong, Ayah, Abah, Akak, Ulong, Angah, Uncu, Pakcik, Makcik, Uwak dan sebagainya.
Jika Puak Melayu, misalnya, tutur Tengku Ayah untuk kalangan bangsawan, acapkali diucapkan dengan kata “Entu” (Ayahanda), sebutan Ibunda/Bunda/Bunde menjadi “Ende”, Emak Kecik menjadi “Makcik/Ocik”, Bapak Kecik menjadi “Pakcik”; diSimalungun bentuk ini juga ada.
Orang Simalungun juga biasa mengucapkan untuk tutur Mangkela menjadi “Kela”, Anturang menjadi “Turang”, Bapa Gian menjadi “Pagian/Kian” dan lain sebagainya. Dikalangan Bangsawan Sidamanik, merasa lebih akrab jika mengucapkan tutur Bapa menjadi “Apa” saja.

Partuturan Ni Halak Simalungun
Partuturan dalam suku Simalungun di bagi ke dalam 3 kategori menurut kedekatan hubungan seseorang, yaitu

Tutur manorus (langsung)
Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.

Tutur holmouan (kelompok)
Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun

Tutur natipak (kehormatan)
Tutur natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.


Photo Kenangan Tuan Taralamsyah Saragih Garingging & Istri Siti Mayun Br Regar-1975

Tuan Taralamsyah Saragih
oleh: M Muhar Omtatok
Tuan Taralamsyah Saragih Garingging adalah salah seorang bangsawan Simalungun yang memiliki kepedulian terhadap seni, budaya dan sejarah Simalungun. Penguasaannya terhadap Sejarah, Seni dan Kebudayaan Simalungun khususnya, perlu dihargai dan dikenang meskipun beliau telah lama berpulang.

Arlin Dietrich Jansen saat menyusun Thesis Doctor of Philosophy (Ph.D), dengan judul Gonrang Music : Its structure and functions in Simalungun Batak Society in Sumatra / University of Washington, 1980, mengakui meskipun ia belum bertemu sua dengan Taralamsyah Saragih, namun koresponden yang ia lakukan dengan Taralamsyah Saragih, sangat banyak menjadi rujukan dalam thesis yang sudah menjadi buku ini.
Banyak penulis buku mengenai Simalungun mengutip pendapat Taralamsyah Saragih. Ia dengan tegas menyebutkan Rumah Bolon Nagur berada di Nagurusang (kini masuk Kab. Serdang Bedagai). Pendapat ini secara lugas dikutip Sejarahwan Dada Mauraxa, misalnya.
Taralamsyah Saragih yang menyelesaikan pendidikan formal di Holandse Inlandse School (HIS) Simalungun ini, misalnya dalam surat pribadi,1963, menjelaskan jika orang Simalungun asli itu merupakan keturunan dari empat raja-raja besar yang berasal dari Siam dan India dengan rakyatnya masuk ke Sumatera Timur terus ke Aceh, Langkat dan daerah Bangun Purba dan Bandar Kalifah sampai Batubara. Akibat desakan orang “Djau”, berangsur-angsur mereka mencapai pinggiran Danau Toba sampai ke Samosir. Adapun keempat marga-marga Simalungun yang populer Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba berasal dari “harungguan bolon” (permusyawaratan besar) raja-raja yang empat itu agar jangan saling menyerang, bermusuhan dan “marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munsuh”.
Mengenai Keturunannya morga Sinaga Dadihoyong di Kerajaan Tanoh Jawa, Batangiou di Asahan. Taralamsyah Saragih menjelaskan, “Saat kerajaan Majapahit melakukan ekspansi di Sumatera pada abad ke 14 , pasukan dari Jambi yang dipimpin Panglima Bungkuk melarikan diri ke kerajaan Batangiou dan mengaku bahwa dirinya adalah Sinaga. Nenek moyang mereka ini kemudian menjadi raja Tanoh Jawa dengan morga Sinaga Dadihoyong setelah ia mengalahkan Tuan Raya Si Tonggang morga Sinaga dari kerajaan Batangiou dalam suatu ritual adu sumpah (Sibijaon)”.
Sosok multi talenta yang mampu bermain berbagai alat musik, mencipta lagu, menari dan mengkoreografi tari serta kepeduliannya terhadap Simalungun, sudah jarang kita temukan saat ini dikalangan masyarakat Simalungun. namun Tuan Taralamsyah Saragih Garingging memiliki semua itu.
Terlahir di lingkungan Rumah bolon (Istana) di Pamatang Raya – Simalungun, Ahad 18 Agustus 1918. Menikah saat berusia 26 tahun dengan Siti Mayun br Regar pada Sabtu 25 November 1944, dan dianugrahi 3 orang putra dan 9 putri.
Mansen Purba, SH (Alm) saat menjadi Sekretaris Rektor Universitas Simalungun (USI), 1967, pernah berkreasi bersama dengan Taralamsyah Saragih. Dalam catatan Mansen Purba menulis, “Aku juga mengusahakan agar USI berperan sebagai pusat kegiatan kebudayaan. Salah satunya adalah di kala kuprakarsai pagelaran Semalam di Simalungun, karya Taralamsyah Saragih, dengan penari utama Nangkir Saragih, dari Medan. Setelah latihan di Medan, rombongan penari menginap di USI, sebelum pertunjukan digelar di Aula Nommensen. Sekaligus aku berharap pagelaran tersebut dapat menjadi sumber penghasilan bagi seniman sekaliber Taralamsyah Saragih yang waktu itu kurang mendapat perhatian”.
“Berkat dukungan moril dari Komandan Korem Laiku Silangit (Tarigan/Purba Silangit asal Gunung Mariah), pagelaran tersebut sukses, baik dari segi pagelaran keseniannya maupun dari segi finansial. Sayangnya, Nangkir Saragih sebagai penari utama ‘menodong’ Taralamsyah sesaat sebelum pertunjukan. Ia minta bayaran yang sangat besar, jika tidak dipenuhi, akan mengundurkan diri. Taralamsyah terpaksa mengabulkannya, dan karena itu yang tersisa untuk Taralamsyah hampir tidak ada”, tambah Mansen Purba.
“Sejak itu Tulang Taralamsyah sempat tinggal bersama kami di USI, menempati salah satu kamar di Lantai-2. Disela-sela kegiatannya menulis, pada malam hari beliau berdendang dengan clarinetnya. Masa itulah Tulang Taralamsyah merampungkan bukunya berisi sejarah Kerajaan Raya dan silsilah Raja Raya serta penyebaran keturunan Raja Raya. Nama Taralamsyah Saragih dan nama Inangku tercantum sebagai generasi ke-15, yang berarti aku generasi ke-16. Naskahnya diserahkan kepadaku agar kuterbitkan. Saat aku sudah pindah ke Medan, naskahnya kuketik ulang, kemudian difotocopy diperkecil 50%, dan akhirnya kuterbitkan setelah ku-offset di Percetakan Tapian Raya, dengan biaya sendiri. Judulnya “Saragih Garingging”. Tulang Taralamsyah sangat berharap mendapat honor dari penerbitan tersebut, tetapi hanya sedikit yang sempat kukirimkan, karena penjualan buku tersebut tersendat”.

Website Taman Budaya Jambi menuliskan tentang Tuan Taralamsyah Saragih, “Kehadirannya di Jambi sejak pertengahan tahun 1971 atas permintaan Gubernur R.M. Noer Atmadibrata pada waktu itu, telah menambah khasanah bagi perkembangan dunia kesenian Jambi. Menurut H. Tamjid Widjaya, salah seorang sahabat dan murid terdekatnya mengatakan bahwa beliau umpama besi berani, mengumpulkan dan menyatukan serbuk-serbuk besi yang berserakan di sekitarnya. Beliau juga merupakan figure seorang guru dan sekaligus bapak yang mampu meletakkan porsinya dalam mendidik murid-muridnya, mereka semua dianggap seperti anak sendiri. Jadi tidak hanya mengajarkan ilmu keseniannya tapi juga memberikan bekal hidup bagi diri saya secara pribadi, kenang H. Tamjid Widjaya yang musisi dan pencipta lagu-lagu Jambi ini.
Pada tahun 1978, Gubernur Jambi Jamaluddin Tambunan, pernah menginstruksikan untuk melaksanakan penelitian dan pencatatan seni musik dan tari daerah Jambi, yang langsung dipercayakan kepada Taralamsyah Saragih sebagai ketua teamnya, dengan anggota Surya Dharma, Tamjid Widjaya, OK. Hundrick, Marzuki Llazim dan M. Syafei Ade, yang kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku yang masih berupa manuskrip dengan judul Ensiklopesi Musik dan Tari Daerah Jambi”.
Semasa hidupnya banyak pekerjaan dan kegiatan yang mengarah pada seni dan budaya ia lakoni. Sebut saja sebagai Pembina serta piñata tari dan musik yang bertolak dari tradisi Simalungun dan melayu, Pimpinan Orkes Keroncong Pematang Siantar (1936-1941), Perkumpulan musik Siantar Beki Dan (1942-1946), Badan Kesenian Simalungun di Medan (1952-1953), Dosen sejarah di Universitas Sumatera Utara (1968-1970), mengelola kesenian di Jambi sejak 1971 serta serentetan kreatifitas yang perlu diperhitungkan.
Penguasaan beliau terhadap seni musik, khususnya gual Simalungun, sulit kita temukan tandingnya pada saat ini. Saat sebelum Revolusi Sosial 1946, Taralamsyah Saragih pernah menjelaskan bahwa sangat banyak jenis musik khas Simalungun yang dahulu mereka pelajari, namun saat Revolusi Sosial tersebut, sekian banyak peralatan musik Simalungun yang kini tidak kita temukan lagi, turut terbakar di dalam istana kerajaan Raya.
Dalam ranah tari Simalungun, banyak jenis tari lahir dari koreografinya. Sebut saja tari Sitalasari (1946), Pamuhun, Simodak odak, Haro-haro (1952), Sombah ( merupakan penyelarasan tortour Sombah yang telah lahir dari akar leluhur, 1953), Runten Tolo (1954), Nasiaran (1955), Makail, Manduda (1957), Haroan Bolon (1959), Uou (1960), Tembakan (1964), Panak Boru Napitu (1966), Erpangir (1968) serta banyak lagi tari dan sendratari yang ia ciptakan dari tangan dinginnya.
Dalam ranah seni suara Simalungun, Taralamsyah Saragih telah banyak menciptakan lagu Simalungun, sebut saja: Lagu Eta Mangalop Boru, Parmaluan, Hiranan, Inggou Parlajang, Tarluda, Parsonduk Dua, Padan Na So Suhun, Tading Maetek, Pamuhunan, Paima Na So Saud, Sihala Sitaromtom, Sanggulung Balunbalun, Ririd Panonggor, Marsalop Ari, Mungutni Namatua, Pindah-Pindah, Inggou Mariah, Uhur Marsirahutan, Poldung Sirotap Padan, Bujur Jehan, Simodak Odak (ciptaan bersama dengan Tuan Jan Kaduk Saragih), serta yang lainnya.
Ada pula beberapa lagu tradisi Simalungun yang ia gubah kembali, seperti Parsirangan , Doding Manduda (ilah tradisi dari Ilah I Losung), Ilah Nasiholan, Marsigumbangi dan Na Majetter (ilah tradisi dari Ilah Bolon).
Terus menghidupkan kesenian dan berkarya, begitu mungkin yang ditekadkan Taralamsyah Saragih dalam mengisi kehidupan. Walaupun hujan duit belum dan tak akan pernah ia rasakan, tapi Sang Bangsawan ini telah melahirkan banyak karya yang belum pernah dimasukkan dalam Hak Kekayaan Intelektual itu.
Tepat pada hari Senin tanggal 1 Maret 1993 di Jambi, Tuan Taralamsyah Saragih Garingging menghembuskan nafas terakhir, disaat sedang menyusun dan ingin merampungkan Kamus Simalungun yang ia susun dari tahun 1960-an dan hingga kini belum diterbitkan.

Aturni Gori sipanganon siopat nahei (Batur Manggoluh)

Nama-Nama dari Gori:

Maronding ahu humbani parlajouan ni jolma i nagori toruh na tarpapa in
Marhitei manobut goran ni Naibata Siparholong atei ampa Siparidop ni uhur
Haganup puji hubani Ompung Naibata ni portibi ampa haganup na taridah pakon na so taridah
Siparholong atei ampa Siparunjah maruhur
Parsimada ari simagira
Pitah huba-Mu do hansa hanami manombah anjaha mamuhun pangurupion
Patuduh Ham ma bannami dalan na pintor
Ai ma dalan ni halak-halak na hubani sidea dobma binerei-Mu nikmat, sedo dalan ni halak-halak na igilai-Mu anjanah sedo homa dalan ni halak-halak na kahou

email: majalah_sauhur@yahoo.com

Tradisi Kuno Perawatan Bayi di Simalungun
oleh: M. Muhar Omtatok
Saat membaca sebuah referensi Ayurveda India Kuno, saya menemukan sebuah konsep pemijatan pada bayi dengan ramuan tertentu. Sejenak saya terkesima, bukankah metode ini juga ada di dalam khazanah Partambaran Simalungun!
Pupus, ya mamupus bayi yaitu memberi lulur sembari melakukan pemijatan ringan pada bayi. Tradisi keluarga raja-raja di Simalungun ini sudah merupakan tradisi turun temurun. Entah sejak kapan dimulai. Jika dilihat dari referensi Ayurveda India Kuno, mungkin saja tradisi Pupus ini merupakan warisan tradisi India kuno. Namun bisa saja merupakan tradisi kecerdasan lokal Suku Simalungun. Atau inilah salah satu warisan leluhur Simalungun yang berhulu dari India.
Sebelum menulis artikel ini, saya berkempatan menghubungi beberapa narasumber dari berbagai tempat wilayah penyebaran etnis Simalungun, baik yang ada di Kabupaten Serdang bedagai maupun yang ada di Kabupaten Simalungun. Ada beberapa ragam perbedaan dalam ramuan pupus, waktu pemberian pupus dan metodelogi pemijatan. Hal ini logis saja terjadi, karena letak tempat, pola tradisi dan adaptasi yang beragam pula.
Dari berbagai ragam yang ada, kali ini saya menguraikan serba sedikit bahan dan tata cara pupus sebagai tradisi kuno perawatan bayi di simalungun yang hingga kini masih ada yang melaksanakannya.
Ada beberapa bahan yang biasa disediakan untuk melulur (mamupus) bayi, yaitu Demban (Daun sirih, yang temu urat), Lada Itam (Merica Hitam), Bawang, Jarangou Bungle (Jerangau – Acorus calamus L, Bengle – Zingiber purpureum Roxb atau Zingibercassumunar Roxb).
Daun Sirih memiliki khasiat serba guna. Sirih yang nama latinnya Piper betle L mempunya kandungan kimia minyak atsiri (kadinen, kavikol, sineol, eugenol, karvakol), zat samak. Setidaknya, daun sirih bermanfaat untuk menghilangkan bau badan, bronchitis dan Alergi.
Kandungan kimia dalam lada hitam adalah saponin, flavonoida, minyak atsiri, kavisin, resin, zat putih telur, amilum, piperine, piperiline, piperoleine, poperanine, piperonal, dihdrokarveol, kanyo-fillene oksida, kariptone, tran piocarrol, dan minyak lada. Sifat kimiawi lada adalah pedas dan beraroma sangat khas. Lada hitam memiliki banyak khasiat. Di antaranya adalah untuk melancarkan sirkulasi darah, meredakan serangan asma, mengatasi perut kembung, serta menyembuhkan rasa sakit kepala.
Bawang berkhasiat menghambat kemerosotan otak dan sistem kekebalan, mencegah penggumpalan darah, melumpuhkan radikal bebas yang mengganggu sistem kekebalan tubuh, bermanfaat sebagai penawar racun (detoxifier) yang melindungi tubuh dari berbagai macam penyakit, menjaga stamina tubuh serta mengandung khasiat antimikroba, antitrombotik, hipolipidemik, antiarthritis, hipoglikemik, dan juga memiliki antivitas sebagai antitumor.
Rimpang dan daun Jerangou mengandung saponin dan flavonoida, di samping rimpangnya mengandung minyak atsiri. Rimpang Jerangou berkhasiat sebagai obat penenang, obat lambung dan obat limpa. Kandungan Bungle adalah Asam organik; Mineral; Lemak; Gom albuminoit; Gula; Damar (pahit); Minyak atsiri (Sineol, pinen, sesquiterpen). Bungle berkhasiat sebagai Karminatif; Anti inflamasi; Analgesik; Antipiretik.
P U P U S, Tradisi Kuno Perawatan Bayi di Simalungun.
Setelah Bayi ditelatkan pada pangkuan Ibu, Bapak atau pada pangkuan Tulang-nya, si Ibu mengunyah seluruh bahan hingga halus dan bercampur dengan air liur. Setelah itu, seluruh bahan yang sudah halus dan bercampur dengan air liur tadi, dilulurkan ke tubuh bayi sembari melakukan pemijatan secara lembut namun konstan dan pasti.
Terkesan kotor metode ini karena menggunakan air liur untuk proses pupus ini. Padahal air yang berasal dari dalam mulut dan bukan ludah itu mempunyai peran penting. Sejak zaman dahalu, secara naluri ketika ada jari-jari kita yang terluka akibat tergores pisau, kita akan mengisap luka tersebut dengan mulut. Hewan pun demikian. Misalnya kucing, monyet, dan anjing, biasa membasuh tubuh dengan air liurnya ketika luka. Air liur itu sendiri membantu membuang bakteri atau kuman patogen juga pertikel makanan yang memberi dukungan nutrisi metabolik bagi bakteri itu sendiri.
Kembali pada tradisi Pupus, dari berbagai sumber, ada yang mengatakan sebaiknya dilaksanakan pagi hari ada pula yang mengatakan dilaksanakan pada sore hari dan di pantangan pada saat matahari tinggi yaitu tengah hari atau saat matahari tergelincir.
Saya juga menemukan beragam tempat untuk melakuan tradisi mupus ini, ada yang mengatakan dilaksanakan di halaman rumah hingga terkena sinar mata hari pagi. Yang memberi info demikian, menambahkan bahan dengan menggunakan kemiri. Metode ini sangat mirip dengan proses meminyaki bayi di India. Ada juga yang mengatakan dilaksanakan di lopou (teras) rumah.